Tangerang, Educeria.com — Sebuah kegiatan pendidikan yang awalnya hanya diikuti 18 anak berkembang menjadi ruang belajar yang menjangkau lebih banyak kebutuhan masyarakat. Dimulai pada 2015, kegiatan tersebut pada awalnya berfokus memberikan pendampingan belajar kepada anak-anak sekolah dasar yang membutuhkan akses pendidikan tambahan.
Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Ditjen PAUD Kemendikdasmen, Brotojoyo Retnowati atau biasa dikenal Retno, menceritakan bahwa kegiatan tersebut bermula dari keinginannya memberikan pendampingan belajar bagi anak-anak yang tidak memiliki kesempatan mengikuti les berbayar.
Pada awal pelaksanaannya, sasaran kegiatan adalah anak-anak sekolah dasar, khususnya kelas atas. Namun, pengalaman selama mendampingi anak membuat Retno melihat bahwa kebutuhan pendidikan sebenarnya sudah muncul sejak jenjang yang lebih rendah.
“Jadi hari pertama itu 18 anak yang saya nggak kenal orang tuanya,” ungkap Retno pada saat ditemui educeria.com di sekolah Bimble Ibu Bangsa (BIB), beberapa waktu lalu.
Delapan belas anak tersebut menjadi peserta awal kegiatan. Seiring berjalannya waktu, jumlah peserta bertambah hingga sekitar 30 anak pada akhir tahun pertama. Anak-anak kemudian dibagi berdasarkan tingkat kelas agar kegiatan belajar dapat disesuaikan dengan kebutuhan mereka.
Perkembangan tersebut membuat kegiatan tidak lagi hanya berfokus pada anak-anak kelas atas. Setelah melihat kebutuhan di lapangan, pembelajaran mulai menjangkau anak kelas 3, kemudian kelas 1 sekolah dasar, hingga pendidikan anak usia dini.
Menurut Retno, perluasan tersebut tidak dirancang sekaligus sejak awal. Setiap kegiatan berkembang berdasarkan kebutuhan yang muncul dari masyarakat dan peserta.
“Kita itu by demand. Kita pertamanya basic banget, kemudian bertambah-tambahnya by demand,” jelas Retno kala itu.
Kebutuhan warga juga kemudian melahirkan kegiatan pembelajaran lain, salah satunya English Club. Kegiatan tersebut berawal dari keluhan orang tua mengenai biaya les bahasa Inggris yang dinilai cukup mahal.
Pada awalnya, English Club hanya diikuti oleh dua anak. Brotojoyo kemudian memberikan pembelajaran secara bertahap hingga kegiatan tersebut mulai menarik lebih banyak peserta.
Tidak hanya anak-anak yang tertarik mengikuti pembelajaran. Orang tua yang mengetahui adanya kegiatan tersebut juga kemudian menyampaikan keinginan untuk ikut belajar bahasa Inggris.
Para orang tua yang memiliki kesibukan bekerja maupun mengurus rumah tangga tetap menunjukkan ketertarikan untuk belajar. Dari kebutuhan tersebut, kegiatan kemudian berkembang menjadi ruang belajar yang juga memberikan kesempatan kepada orang tua untuk mendapatkan pengalaman belajar.
Perkembangan kegiatan tersebut menunjukkan bahwa sebuah program pendidikan di masyarakat dapat tumbuh secara bertahap tanpa harus langsung memiliki bentuk yang besar sejak awal. Kebutuhan peserta dan masyarakat menjadi salah satu faktor yang mendorong munculnya kegiatan-kegiatan baru.
Brotojoyo juga menilai bahwa sebuah gagasan tidak harus menunggu segala sesuatu sempurna untuk mulai dijalankan.