Tangerang, Educeria.com — Paparan polusi udara tidak hanya berpotensi menimbulkan dampak kesehatan dalam jangka panjang, tetapi juga dapat memunculkan gejala secara langsung dalam hitungan menit, jam, hingga hari.
Menurut dokter spesialis penyakit dalam, Kharisma Wibawa menjelaskan, dampak jangka pendek dari paparan udara tercemar dapat dirasakan melalui berbagai gejala, seperti mata perih, hidung dan tenggorokan terasa tidak nyaman, bersin-bersin, hingga sesak napas.
“Kalau kita pernah misalkan ada melewati asap kebakaran, kita langsung bisa merasakan imbasnya. Mata jadi perih, hidung perih, tenggorokan sakit, itu adalah dampak yang mungkin kita sehari-hari pernah merasakan,” ujarnya saat Webinar Series Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Tangerang (FK-UMT) bertajuk “Di Balik Udara Tangerang, Seberapa Sehat Udara yang Kita Hirup?”, Sabtu (3/10/2026).
Menurut Kharisma, kondisi kualitas udara yang buruk juga dapat membuat masyarakat lebih sering mengalami iritasi pada mata dan hidung. Pada sebagian orang, paparan polusi dapat memicu gangguan pernapasan.
Terlebih pada kelompok yang sensitif, seperti orang yang memiliki asma atau alergi, kualitas udara yang buruk dapat memperberat keluhan yang mereka alami.
“Pada kelompok-kelompok sensitif, polusi udara ini bisa memicu asma dan memicu alerginya, gatal-gatal di kulit,” katanya.
Kharisma juga menjelaskan bahwa dampak polusi udara tidak berhenti pada gangguan pernapasan. Paparan partikulat halus secara terus-menerus dapat berhubungan dengan berbagai masalah kesehatan, termasuk penyakit jantung dan stroke.
Ia membedakan dampak polusi udara menjadi dua kategori, yakni dampak jangka pendek dan jangka panjang. Dampak jangka pendek dapat muncul dalam hitungan menit hingga hari, sedangkan dampak jangka panjang dapat terjadi setelah paparan selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.
“Kalau kita melihat udara kita tidak sehat, nanti ada dampak kesehatannya, ada dampak jangka pendek, dampak jangka panjang. Jangka pendek bisa batuk, jangka panjang bahkan bisa menyumbat aliran darah,” jelasnya.
Karena itu, kualitas udara menurut Kharisma perlu dipandang sebagai bagian dari persoalan kesehatan masyarakat, bukan sekadar persoalan lingkungan.