• Sabtu, 3 Oktober 2026

Bukan Gratis Sepenuhnya, Pendidikan Ini “Dibayar” dengan Partisipasi Orang Tua

Photo Author
- Jumat, 2 Oktober 2026 | 19:42 WIB
Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Ditjen PAUD Kemendikdasmen, Brotojoyo Retnowati, saat ditemui di sekolah Bimbel Ibu Bangsa (BIB) beberapa waktu lalu. (Educeria.com/Muhammad Guruh Nuary)
Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Ditjen PAUD Kemendikdasmen, Brotojoyo Retnowati, saat ditemui di sekolah Bimbel Ibu Bangsa (BIB) beberapa waktu lalu. (Educeria.com/Muhammad Guruh Nuary)

Tangerang, Educeria.com – Pendidikan tanpa biaya tidak selalu berarti orang tua sepenuhnya lepas dari tanggung jawab dalam proses belajar anak. Bagi Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Ditjen PAUD Kemendikdasmen, Brotojoyo Retnowati, keterlibatan orang tua justru menjadi bagian penting dalam keberlanjutan pendidikan anak.

Dia menjelaskan, kegiatan pendidikan yang dijalankannya tidak sepenuhnya disebut gratis. Orang tua tetap memiliki “tanggung jawab” dalam bentuk partisipasi, terutama dengan melanjutkan pembiasaan dan nilai-nilai yang dipelajari anak selama mengikuti kegiatan belajar di rumah.

“Kami bilangnya enggak gratis ya, dibayar dengan partisipasi orang tua,” ujar Retno, sapaan akrabnya kepada Educeria.com beberapa hari lalu.

Partisipasi tersebut diwujudkan melalui berbagai kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Anak tidak hanya diarahkan untuk memahami materi pembelajaran, tetapi juga dibiasakan menerapkan nilai-nilai yang telah dikenalkan dalam kegiatan belajar.

Beberapa di antaranya seperti berdoa sebelum makan, menggunakan tangan kanan ketika makan, duduk saat makan dan minum, tidak membuang sampah sembarangan, serta membiasakan anak membaca buku.

Menurut Brotojoyo, pembiasaan tersebut membutuhkan konsistensi antara lingkungan belajar dan keluarga. Karena itu, orang tua tidak hanya berperan sebagai pihak yang mengantarkan dan menjemput anak, tetapi juga menjadi bagian dari proses pendidikan setelah anak kembali ke rumah.

Baca Juga: Wakil Ketua Komisi X Sebut Batik Jadi Budaya Indonesia yang Adaptif

Pendampingan orang tua juga diperlukan ketika terdapat persoalan perilaku pada anak. Saat menemukan anak yang mengalami kesulitan dalam berinteraksi, menunjukkan perilaku agresif, atau menggunakan bahasa yang kurang sesuai, pihaknya memilih berkomunikasi terlebih dahulu dengan orang tua.

Pendekatan tersebut dilakukan untuk mengetahui kondisi anak di rumah dan mencari kemungkinan faktor yang memengaruhi perilakunya. Dalam kondisi tertentu, orang tua juga diminta melakukan pemantauan terhadap aktivitas anak selama beberapa waktu, mulai dari makanan yang dikonsumsi, kegiatan sehari-hari, hingga interaksi anak dengan lingkungan sekitar.

Komunikasi mengenai kondisi tersebut dilakukan secara personal agar pembahasan mengenai anak dan keluarga tetap dapat berlangsung secara terbuka dan tidak menjadi konsumsi orang lain.

Brotojoyo menilai bahwa pendidikan yang diberikan kepada anak perlu mendapatkan dukungan dari keluarga. Menurutnya, meskipun orang tua tidak mengeluarkan biaya untuk mengikuti kegiatan tersebut, mereka tetap memberikan sesuatu yang tidak kalah penting, yakni waktu, perhatian, dan keterlibatan.

“Kita tidak menarik bayaran dari mereka. Tapi kita memperlakukan mereka seolah-olah mereka bayar mahal untuk itu,” ungkap Retno.

Pernyataan tersebut menjadi gambaran mengenai prinsip yang diterapkan dalam kegiatan tersebut. Pendidikan tidak hanya dipandang sebagai proses yang berlangsung di ruang belajar, tetapi juga sebagai proses yang berlanjut melalui kehidupan sehari-hari anak bersama keluarganya.

Baca Juga: Berdayakan Ekonomi Rakyat, BRI Raih Pengakuan Global Finance sebagai Bank Terbaik Dunia bagi UMKM Sektor Pertanian dan Pedesaan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Nur Agnatul Hasanah

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X