Tangerang, Educeria.com – Polisi masih terus melakukan penyelidikan terkait meninggalnya satu siswa kelas 2 SDN 01 Kebondalem, Pemalang, Jawa Tengah.
Seperti diketahui, dugaan adanya perundungan mencuat usai siswa berinisial MHAA (7) meninggal dunia pada 30 September 2026.
Keluarga kemudian mengajukan laporan polisi dan melakukan penyelidikan tentang adanya dugaan perundungan di lingkungan sekolah.
Di tengah proses penyelidikan, Pemerintah Kabupaten Pemalang mengungkapkan telah menonaktifkan Kepala Sekolah SDN 01 Kebondalem, Erning Rustini dari jabatannya.
“Iya dinonaktifkan sejak kemarin (6 Oktober 2026 -red),” kata Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pemalang, Nurkholes dalam keterangannya kepada awak media pada Rabu, 7 Oktober 2026.
Sebelumnya, Nurkholes juga sempat mengungkap akan dilakukan evaluasi internal dan opsi mutasi bagi kepala sekolah.
“Sesegera mungkin kita lakukan evaluasi terhadap kepala sekolah dan tentunya kita akan mengambil tindakan tegas. Jika memungkinkan, kita pindahkan, tidak boleh bertugas di sekolah ini lagi,” terangnya pada Senin, 5 Oktober 2026 lalu.
Mengenai proses hukumnya, Pemkab Pemalang menyerahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum.
Adapun kasus ini ditangani oleh Satreskrim Polres Pemalang dan telah memeriksa 8 orang saksi.
“Dari pihak sekolah ada dua orang yang dimintai keterangan, yaitu kepala sekolah dan guru. Selain itu, kami juga memeriksa kedua orang tua korban serta sejumlah saksi anak,” kata Kasat Reskrim Polres Pemalang, AKP M. Faizal Wildan Umar Rela kepada awak media di Mapolres Pemalang pada Senin, 5 Oktober 2026.
Lebih lanjut, kasus ini juga menguak terduga pelaku adalah kakak kelas korban yang masih duduk di kelas 5 SD dan satu siswa lainnya, duduk di kelas 6 SD turut dalam pemeriksaan.
Ketiganya masih dalam proses pendalaman penyelidikan dengan bantuan koordinasi sejumlah pihak terkait mengingat terduga pelaku merupakan anak yang berhadapan dengan hukum (ABH).
Artikel Terkait
Tanpa SKTM, Program Pendidikan Ini Menyeleksi Peserta Berdasarkan Kondisi Nyata Keluarga
Kuliah Gratis di Tengah Komersialisasi Pendidikan: Janji Keadilan atau Solusi Setengah Hati?
Berawal dari 18 Anak, Program Pendidikan Ini Berkembang Mengikuti Kebutuhan Warga
Dari Dua Kampung yang Tak Akur, Anak-Anak Dipertemukan Lewat Ruang Belajar
“Saya Berhenti Mencubit Anak”: Ketika English Club Mengubah Cara Orang Tua Memahami Proses Belajar