Tangerang, educeria.com— Penyelenggaraan Indodragon Championship ke-8 tidak semata menjadi ajang mencari ikan arwana terbaik. Kontes tersebut juga membawa misi untuk memperkenalkan arwana Super Red sebagai salah satu ikan hias khas Indonesia kepada pasar dan komunitas internasional.
Penyelenggara sekaligus Ketua Juri Indodragon Championship, Hendri Leong mengatakan Indonesia mempunyai posisi penting dalam dunia arwana Super Red. Ikan yang banyak dibudidayakan di Kalimantan Barat tersebut telah memiliki penggemar hingga berbagai negara.
“Tujuan mulianya untuk mempromosikan ikan hias Indonesia ini. Arwana menjadi salah satu maskot ikan hias Indonesia,” ujar Hendri.
Menurut dia, komunitas arwana Indonesia juga memiliki hubungan yang cukup kuat dengan penghobi di negara lain, termasuk China, Singapura, Malaysia, Thailand dan Vietnam.
Bahkan, Hendri dijadwalkan menjadi juri dalam kompetisi arwana di China pada November mendatang.
“Kalau di China, banyak pemain dari China yang bertanding. Ikan Super Red semuanya berasal dari Indonesia. Kita produsennya,” katanya.
Arwana Super Red memang memiliki daya tarik tersendiri, terutama karena warna merah yang menjadi karakter utamanya. Hendri mengatakan pasar China merupakan salah satu pasar yang memiliki ketertarikan besar terhadap ikan tersebut. Selain faktor kualitas, warna merah juga memiliki daya tarik tersendiri bagi konsumen di negara tersebut.
Nilai ekonominya pun sangat beragam karna menurut Hendri, arwana berukuran relatif kecil dapat diperoleh mulai kisaran jutaan rupiah. Namun, ikan berkualitas tinggi, khususnya yang telah berhasil menjadi Grand Champion, dapat mempunyai nilai jauh lebih tinggi.
“Ikan Grand Champion bisa memiliki nilai di atas Rp500 juta. Tapi rentangnya memang luas. Ada yang mulai sekitar Rp2 juta, ada juga ikan ukuran sekitar 20 sentimeter yang nilainya belasan juta, tergantung kualitasnya,” ujarnya.
Kualitas tersebut antara lain ditentukan oleh warna, anatomi dan performa ikan. Dalam Indodragon Championship, ketiga aspek itu menjadi dasar utama penilaian. Pada kelas tertentu, warna bahkan memiliki bobot 40 persen, sementara anatomi serta penampilan keseluruhan masing-masing 30 persen.
Karakter fisik berkualitas juga berkaitan erat dengan proses pembudidayaan. Hendri menjelaskan pembudidaya melakukan selective breeding dengan memilih indukan yang memiliki kualitas anatomi maupun warna terbaik. Faktor genetika menjadi sangat penting terutama dalam membentuk anatomi ikan.
“Kalau anatomi tidak bisa dibentuk begitu saja. Itu genetik. Karena itu dilakukan *selective breeding*, dilihat indukan dengan anatomi yang bagus,” ujarnya.
Arwana juga termasuk ikan berumur panjang. Hendri menyebut ikan tersebut dapat hidup selama puluhan tahun apabila mendapat perawatan dan lingkungan yang baik.