Sementara itu, Andi Eka Sakya selaku peneliti senior Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sekaligus kepala tim riset gabungan Indonesia, menyebut inisiatif tersebut berpotensi menjadi terobosan.
Namun, sistem tersebut saat ini masih berupa prototipe dan belum digunakan untuk memberikan peringatan kepada masyarakat secara luas.
Andi menjelaskan, warga di lokasi sekitar 50 kilometer dari pusat gempa mungkin hanya memiliki waktu sekitar lima hingga 10 detik untuk merespons setelah gelombang gempa terdeteksi.
“Ini masih berupa prototipe, dan mereka belum mengeluarkan peringatan kepada masyarakat umum," tutur Andi.
Selain masjid, penelitian juga mencakup kemungkinan penggunaan pengeras suara sekolah serta siaran radio dan televisi sebagai bagian dari jaringan peringatan dini.***