Tangerang, Educeria.com – Perundungan sering kali terlihat bermula di halaman sekolah, ruang kelas, atau percakapan di media sosial. Namun, perilaku menyakiti orang lain tidak selalu berawal di tempat-tempat tersebut. Ada kemungkinan bahwa sebagian pola perilaku itu tumbuh jauh sebelumnya, dari pengalaman anak di rumah: ketika ia jarang didengarkan, dibiarkan tanpa arahan, menyaksikan pertengkaran, atau menerima pengasuhan yang dipenuhi tekanan. Rumah memang bukan satu-satunya penentu perilaku remaja, tetapi keluarga merupakan salah satu lingkungan pertama tempat anak belajar mengenali emosi, aturan, dan cara memperlakukan orang lain.
Gambaran tersebut menjadi pintu masuk untuk memahami artikel berjudul “Kontribusi Masalah Pengasuhan Orang Tua Terhadap Perilaku Bullying Remaja: Sebuah Systematic Literature Review” karya Salsabila Tresna Alika, Nurliana Cipta Apsari, dan Budi Muhammad Taftazani dari Universitas Padjadjaran. Artikel ini diterbitkan dalam Jurnal Sosio Informa, Volume 11 Nomor 2, tahun 2025. Melalui kajian terhadap penelitian-penelitian sebelumnya, penulis berusaha melihat bagaimana gaya pengasuhan, kondisi keluarga, dan kualitas hubungan di dalam keluarga berkaitan dengan kecenderungan remaja melakukan perundungan.
Untuk menyusun kajian tersebut, penulis menggunakan metode Systematic Literature Review dengan mengikuti panduan PRISMA. Pencarian dilakukan melalui basis data Scopus dan EBSCOhost. Dari 128 artikel yang ditemukan pada tahap awal, proses penyaringan berdasarkan kriteria penelitian menghasilkan sembilan artikel yang kemudian dianalisis secara mendalam. Artikel yang ditelaah mencakup penelitian dari sejumlah negara, antara lain Spanyol, Brasil, Hong Kong, Amerika Serikat, Tiongkok, Siprus, dan Slovakia. Dengan demikian, tulisan ini bukan laporan dari satu eksperimen baru, melainkan sintesis atas temuan berbagai penelitian mengenai hubungan pengasuhan dan perilaku bullying pada remaja.
Temuan Krusial
Pola pengasuhan yang mengabaikan kebutuhan anak atau neglectful parenting muncul sebagai faktor risiko yang menonjol. Remaja yang kurang memperoleh perhatian, pengawasan, dan arahan positif dapat mengalami kesulitan mengembangkan pengendalian diri serta keterampilan sosial. Dalam kondisi seperti itu, perilaku agresif—misalnya memaki, bertengkar, berkelahi, atau merundung teman yang dianggap lebih lemah—dapat lebih mudah muncul. Temuan ini tidak berarti bahwa setiap anak yang kurang mendapat perhatian pasti menjadi pelaku perundungan. Namun, pengabaian menunjukkan pentingnya kehadiran orang tua yang terlibat dan responsif dalam kehidupan anak.
Artikel ini juga membahas pengasuhan otoriter dan pengasuhan keras. Ketika kedisiplinan diterapkan melalui hukuman fisik atau verbal, tekanan emosional, dan kontrol psikologis, anak dapat belajar bahwa kekuasaan atau tekanan merupakan cara untuk menghadapi orang lain. Kontrol psikologis, seperti memanipulasi perasaan anak atau membuatnya merasa bersalah secara berlebihan, juga dikaitkan dengan peningkatan risiko cyberbullying dalam salah satu penelitian yang ditelaah. Meski demikian, penulis tidak menyederhanakan hasilnya menjadi kesimpulan bahwa pengasuhan otoriter selalu menyebabkan bullying. Beberapa penelitian menemukan bahwa pola otoriter dalam konteks tertentu berkaitan dengan kecenderungan bullying yang lebih rendah, tetapi hasil tersebut bervariasi dan sebagian efeknya kecil atau tidak signifikan. Karena itu, temuan ini perlu dibaca secara hati-hati dan tidak dapat dijadikan alasan untuk membenarkan kekerasan dalam pengasuhan.
Sebaliknya, pola pengasuhan otoritatif atau authoritative—yang memadukan kehangatan, aturan yang jelas, komunikasi, dan dukungan terhadap kemandirian anak—digambarkan sebagai faktor pelindung. Anak yang merasa didengarkan dan diberi kesempatan untuk belajar mengambil keputusan berpeluang mengembangkan kecerdasan emosional, empati, serta hubungan sosial yang lebih sehat. Orang tua tidak harus selalu menuruti keinginan anak, tetapi perlu menjelaskan batasan secara konsisten dan menghargai perasaan anak. Sementara itu, pengasuhan permisif yang minim arahan juga dapat menyisakan risiko karena anak tidak memperoleh batasan dan bimbingan yang cukup.
Suasana Keluarga Jadi Penentu
Hal lain yang ditekankan artikel ini adalah bahwa masalah perundungan tidak dapat dilepaskan dari kondisi dan suasana keluarga. Konflik yang sering terjadi, rendahnya ikatan emosional, pengawasan yang minim, serta pola pengasuhan ayah atau ibu yang tidak konsisten dapat berkaitan dengan meningkatnya perilaku agresif. Sebaliknya, keterlibatan orang tua dalam kegiatan anak, mengetahui aktivitas dan pergaulannya, memantau kehidupan sekolah, serta meluangkan waktu untuk makan bersama dapat menjadi bentuk pengawasan positif. Dukungan keluarga bukan sekadar hadir secara fisik, melainkan juga menyediakan ruang aman agar anak dapat bercerita dan memperoleh bimbingan tanpa takut direndahkan.
Artikel tersebut turut menunjukkan bahwa keadaan orang tua, termasuk tekanan psikologis dan kesehatan mental, dapat berkaitan dengan kualitas pengasuhan. Hubungan ini dapat berlangsung dua arah: tekanan dalam keluarga dapat memengaruhi anak, sedangkan keterlibatan anak dalam perundungan juga dapat menambah beban emosional orang tua. Temuan ini mengingatkan pembaca agar tidak terburu-buru menyalahkan satu pihak. Perundungan merupakan perilaku yang harus ditangani dengan serius, tetapi memahami latar belakangnya membutuhkan perhatian pada berbagai faktor, termasuk keluarga, teman sebaya, sekolah, dan lingkungan sosial yang lebih luas.
Dampak Perundungan dan Cara Mencegahnya
Pertama, pencegahan tidak seharusnya hanya berfokus pada pemberian hukuman kepada pelaku di sekolah. Sekolah juga perlu bekerja sama dengan orang tua untuk membangun komunikasi yang terbuka, mengenali perubahan perilaku remaja, dan menyepakati aturan yang jelas. Kedua, anak perlu dibantu memahami empati, pengelolaan emosi, penyelesaian konflik, dan cara meminta pertolongan ketika melihat atau mengalami perundungan. Ketiga, keluarga yang mengalami konflik atau kesulitan membangun hubungan dapat memperoleh dukungan melalui konseling keluarga, pelatihan pengasuhan, atau layanan pekerjaan sosial yang sesuai. Artikel ini secara khusus menekankan intervensi pada tingkat mezzo, yaitu pendampingan yang melibatkan remaja beserta lingkungan keluarga, bukan hanya berfokus pada individu anak.
Dari sisi kelebihan, artikel ini memberi pandangan yang lebih menyeluruh karena tidak hanya membahas jenis pola asuh, tetapi juga kondisi keluarga dan kualitas hubungan emosional. Penggunaan metode tinjauan sistematis serta penjelasan tentang proses pemilihan artikel membuat dasar kajiannya dapat ditelusuri. Artikel ini juga mengakui adanya temuan yang berbeda, terutama terkait pengasuhan otoriter, sehingga pembaca diajak melihat perundungan sebagai persoalan yang kompleks. Meski demikian, kajian ini memiliki keterbatasan: jumlah artikel akhir yang dianalisis hanya sembilan dan penelitian berasal dari konteks negara yang beragam. Oleh sebab itu, hasilnya tidak dapat langsung dianggap menggambarkan semua keluarga atau remaja di Indonesia. Hubungan yang ditemukan juga tidak otomatis membuktikan bahwa pola asuh tertentu merupakan penyebab tunggal perundungan.
Secara keseluruhan, artikel Alika, Apsari, dan Taftazani memberi pesan bahwa pencegahan perundungan perlu dimulai dari hubungan yang sehat dan berlanjut melalui kerja sama keluarga, sekolah, serta tenaga pendamping. Orang tua berperan penting bukan dengan menuntut anak selalu patuh atau membiarkannya tumbuh tanpa arahan, melainkan dengan menghadirkan kasih sayang, batasan yang masuk akal, komunikasi, dan keteladanan. Bagi sekolah dan pekerja sosial, temuan ini dapat menjadi pengingat untuk mencari akar persoalan sekaligus melindungi korban dan mendorong pelaku bertanggung jawab atas perilakunya. Perundungan tidak bisa dibebankan hanya kepada keluarga, tetapi rumah yang aman dan suportif dapat menjadi salah satu langkah penting untuk memutus siklus perilaku agresif sebelum terbawa ke lingkungan pertemanan.
Artikel Terkait
Awal Mula Perundungan Siswa SD Pemalang Terbongkar: Kecurigaan sang Nenek Lihat Memar di Perut Korban
Bayang-Bayang Hukum di Balik Paradoks Perundungan Anak