• Rabu, 21 Oktober 2026

Hakikat Bahasa: Dari Konsep hingga Peran Pengendalian Diri dan Kontrol Sosial

Photo Author
Ismalinar EC, Educeria.com
- Rabu, 21 Oktober 2026 | 20:50 WIB
Ilustrasi bahasa sarana utama untuk berkomunikasi. (dok. Magnific)
Ilustrasi bahasa sarana utama untuk berkomunikasi. (dok. Magnific)

Educeria.com - Dalam kehidupan sehari-hari, bahasa memegang peranan yang sangat fundamental. Muncul anggapan bahwa tanpa bahasa, manusia tidak akan mampu menjalani kehidupan. Pernyataan ini mungkin terdengar berlebihan, tetapi ada kebenaran di dalamnya. Sebagai makhluk sosial, manusia memerlukan sarana untuk berinteraksi dengan Tuhan serta sesamanya. Sarana utama tersebut adalah bahasa.

Harold D. Lasswell (1948) dalam bab pembahasannya the structure and function of communication in society menyebut bahasa sebagai alat komunikasi utama masyarakat untuk menyampaikan pesan, ide, dan perasaan. Kridalaksana (2008) mendefinisikan dalam karyanya Kamus linguistik (Edisi ke-4) sebagai sistem lambang bunyi arbitrer yang bermakna dan digunakan oleh anggota masyarakat untuk bekerja sama, berkomunikasi, serta mengidentifikasi diri. Keraf (2004) dalam Komposisi: Sebuah pengantar kemahiran bahasa juga menekankan bahasa sebagai simbol bunyi dari alat ucap manusia yang memiliki fungsi multidimensional. Sementara itu, Halliday (1975) merinci dalam bukunya learning how to mean: Explorations in the development of language bahwa fungsi bahasa dari pemenuhan kebutuhan (instrumental), pengontrol lingkungan (regulatif), interaksi sosial (interaksional), ekspresi diri (personal), hingga transmisi ilmu dan budaya.

Dari pandangan para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa bahasa adalah sistem lambang bunyi arbitrer yang bermakna dan dihasilkan oleh alat ucap manusia untuk menyampaikan pesan, gagasan, dan perasaan. Dalam bahasa tulis, simbol bunyi ini diwakili oleh huruf abjad yang baru bermakna ketika dirangkai menjadi suku kata, kata, hingga susunan kalimat utuh.

Peran Alat Ucap dan Dinamika Pemerolehan Bahasa

Bahasa tidak sekadar keluar dari mulut, melainkan hasil proses kompleks yang melibatkan organ artikulasi atau alat ucap-mulai dari rongga mulut, hidung, tenggorokan, hingga paru-paru. Pembuktian sederhananya jelas. Cobalah mengucapkan bunyi /m/ dengan bibir terbuka, atau mengucapkan bunyi /h/ dengan mulut tertutup rapat. Bunyi bahasa tidak akan terbentuk sempurna tanpa keterlibatan alat ucap yang bekerja sesuai fungsinya. Hal ini juga menjelaskan mengapa penyandang bibir sumbing mengalami hambatan pelafalan akibat keterbatasan kelainan organ artikulasi.

Menariknya, secara biologis bahasa tidak diwariskan secara genetis kepada keturunan. Manusia memperoleh dan menguasai bahasa melalui proses interaksi, penyimakan, dan peniruan (imitation) lingkungan (Chaer, 2003). Sebagai contoh, seorang bayi berdarah Jawa yang diasuh oleh keluarga di Amerika sejak usia tiga bulan akan menguasai bahasa Inggris, bukan bahasa Jawa.

Fenomena ini memperjelas mengapa penyandang disabilitas rungu-yang mengalami hambatan pendengaran sehingga tidak bisa meniru bunyi lisan, secara kreatif mengompensasikannya melalui bahasa isyarat. Begitu pula pada anak dengan gejala autism; meski organ pendengarannya normal, kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial membuat mereka tidak menyimak dan meniru bunyi bahasa di sekitarnya. Kasus-kasus ini menjadi bukti valid bahwa penguasaan bahasa murni lahir dari proses mendengar, menyimak, dan meniru interaksi sosial.

Prinsip Behaviorisme dan Ketajaman Pikiran

Proses penguasaan bahasa melalui peniruan dan pembiasaan (habit formation) sangat sejalan dengan Teori Behaviorisme. Teori ini menjadi dasar Audio-Lingual Method (ALM) yang populer dalam pengajaran bahasa. Melalui metode ini, pembelajar diperdengarkan audio dan diminta menirukan pelafalan, nada, serta intonasi secara berulang-ulang (drill) hingga menjadi refleks tanpa harus memikirkan tata bahasa secara teoritis terlebih dahulu.

Secara alami, manusia telah menerapkan prinsip Behaviorisme sejak bayi saat menguasai bahasa ibu. Berawal dari celotehan (babbling) pada usia enam bulan, perkembangan bahasa bayi melonjak hingga mampu membentuk kalimat terstruktur berpola Subjek-Predikat pada usia sekitar satu tahun.  Dari hasil pengamatan, pada usia tersebut umumnya bayi mampu mengucapkan misalnya frasa (/mama nen/, atau /mama mum/). Ternyata, sejak bayi, manusia sudah terampil berbahasa.

Pada dasarnya, tingkat keterampilan berbahasa seseorang (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis) menjadi indikator utama ketajaman berpikir. Semakin terampil seseorang berbahasa, semakin terstruktur pula jalan pikirannya. Dalam dunia profesional, hal ini terlihat jelas saat seseorang berpresentasi: pemateri yang cerdas mampu menyampaikan gagasan secara terstruktur, mengelaborasi poin presentasi dengan luwes, dan merespons pertanyaan secara tepat. Sebaliknya, pemateri yang hanya membaca slide atau gawai cenderung diragukan tingkat penguasaan materinya.

Bahasa sebagai Etika Pengendalian Diri dan Kontrol Sosial

Bahasa juga berfungsi sebagai cerminan karakter dan alat kontrol sosial. Kesantunan berbahasa tercermin dari pemilihan kata dan intonasi tutur. Bahasa yang santun diujarkan tanpa nada emosional meluap-luap serta diksi yang tidak melukai sehingga membuat lawan bicara merasa dihargai. Sebaliknya, diksi atau pilihan kata serta tuturan yang kasar dapat memicu prasangka, kekecewaan pada mitra tutur hingga terjadi konflik fatal. Pentingnya mengontrol diri dalam berbahasa sudah ditangkap oleh nenek moyang kita sejak dahulu kala. Untuk itu, generasi penerus dinasihati dengan peribahasa: "Mulutmu harimaumu yang akan mengerkah kepalamu."

Masih berkaitan dengan bahasa sebagai alat kontrol diri, sebuah ilustrasi tragis dalam kehidupan. Seseorang yang mengendarai mobil saat pulang dari kafe menyenggol motor pengemudi ojol. Setang motor rusak sementara makanan yang  diantarkan ke konsumen jatuh serta tumpah. Pengemudi ojol tersulut emosi. Secara spontan dia memaki, “Babi, Lo!” Rupanya, yang dimaki habis “minum-minum”.  Dia juga membawa senjata. Tanpa pertimbangan, ditembaknya hingga pengemudi ojol tewas. Alangkah mirisnya karena umpatan dua kata saja, yang tewas diusung ke pekuburan dan penembak masuk penjara.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.
Halaman:

Editor: Muhammad Guruh Nuary

Tags

Terkini

X