• Jumat, 16 Oktober 2026

Dekan FKIP UMT: Guru PAUD Jangan Fokus Calistung, tetapi Membentuk Karakter Anak

Photo Author
Anis Alfiyanti, Educeria.com
- Jumat, 16 Oktober 2026 | 19:03 WIB
Dekan FKIP UMT, Sumiyani saat memberikan sambutan sosialisasi perkuliahan kepada ratusan mahasiswa RPL beasiswa Kabupaten Tangerang. (Educeria.com/Rasyatul Maharani)
Dekan FKIP UMT, Sumiyani saat memberikan sambutan sosialisasi perkuliahan kepada ratusan mahasiswa RPL beasiswa Kabupaten Tangerang. (Educeria.com/Rasyatul Maharani)

Tangerang, Educeria.com — Pendidikan anak usia dini (PAUD) tidak cukup dipahami sebagai tahap pengenalan membaca, menulis, dan berhitung. Lebih mendasar dari itu, pendidikan pada fase awal kehidupan berperan dalam membangun karakter, kebiasaan, sikap, dan kepribadian anak. Karena itu, guru PAUD memegang tanggung jawab penting dalam meletakkan fondasi perkembangan generasi masa depan.

Pesan tersebut disampaikan Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT), Sumiyani, dalam memberikan sambutan pada acara sosialisasi perkuliahan kepada mahasiswa Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) Program Studi PAUD.

Sumiyani menegaskan bahwa peran guru PAUD tidak dapat diukur hanya dari kemampuan menyampaikan materi pembelajaran. Guru juga memiliki tanggung jawab untuk menjadi teladan bagi anak-anak melalui cara berbicara, bersikap, dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.

“Pendidikan anak usia dini bukan sekadar mengajarkan dan memang tidak fokusnya ke arah membaca, menulis, dan berhitung. Lebih dari itu, pendidikan pada tahap ini berperan besar dalam membentuk karakter, kebiasaan, sikap, dan kepribadian anak,” ujarnya di hadapan ratusan mahasiswa RPL Beasiswa Kabupaten Tangerang, di aula lantai 19 UMT, Jumat (16/10/2026).

Menurutnya, anak-anak berada pada tahap perkembangan ketika lingkungan memberikan pengaruh penting terhadap proses belajar dan pembentukan perilaku. Mereka tidak hanya menyerap materi yang disampaikan guru, tetapi juga mengamati dan meniru perilaku orang dewasa di sekitarnya.

Cara guru berkomunikasi, memperlakukan orang lain, menyelesaikan masalah, serta menunjukkan sikap sehari-hari dapat menjadi pengalaman belajar bagi anak. Oleh sebab itu, keteladanan harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari praktik pendidikan anak usia dini.

Sumiyani mengingatkan bahwa guru perlu berhati-hati dalam berbicara dan bertindak karena perilaku yang ditampilkan di hadapan anak dapat memengaruhi cara anak memahami dan merespons lingkungannya.

“Karena itu, guru PAUD harus menjadi teladan yang baik. Kita tidak boleh sembarangan berbicara atau bertindak karena apa yang kita lakukan dapat menjadi contoh bagi anak-anak,” paparnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi terhadap profesi guru taman kanak-kanak serta para guru PAUD yang dinilainya memiliki peran besar dalam membangun fondasi kehidupan anak. Menurutnya, pekerjaan tersebut membutuhkan kesabaran, kepedulian, serta pemahaman terhadap perkembangan anak.

Pendidikan pada tahap usia dini menjadi titik penting karena pengalaman yang diperoleh anak dapat turut membentuk kebiasaan dan cara mereka berinteraksi pada tahap kehidupan berikutnya. Karena itu, guru perlu memiliki pemahaman yang memadai mengenai karakteristik anak dan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan perkembangannya.

Dalam konteks tersebut, peningkatan kompetensi guru menjadi kebutuhan yang tidak dapat diabaikan. Pengalaman mengajar memang memberikan bekal berharga, tetapi perlu terus diperkuat melalui pendidikan formal, pembelajaran akademik, dan pengembangan profesional.

“Teman-teman yang saat ini sudah menjadi guru tentu memiliki pengalaman yang sangat berharga. Namun, pengalaman tersebut tetap perlu diperkuat melalui pendidikan formal, pembelajaran akademik, dan pengembangan kompetensi secara berkelanjutan,” tutur Sumiyani.

Ia berharap mahasiswa Program Studi PAUD FKIP UMT dapat memanfaatkan kesempatan kuliah untuk memperdalam pemahaman mengenai pendidikan anak usia dini. Dengan demikian, para mahasiswa tidak hanya memperoleh kualifikasi akademik, tetapi juga mengembangkan perspektif yang lebih luas dalam menjalankan peran sebagai pendidik.

Bagi Sumiyani, menjadi guru PAUD berarti mengambil bagian dalam proses pembentukan generasi sejak tahap awal kehidupan. Tanggung jawab tersebut menuntut pendidik untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan menghadirkan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan anak.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.
Halaman:

Editor: Muhammad Guruh Nuary

Terkini

X