Namun, Asep mengingatkan bahwa kebebasan menggunakan berbagai metode tidak berarti guru dapat mengabaikan tujuan pembelajaran dan karakteristik peserta didik.
“Berarti dengan menggunakan metode apa pun yang penting tujuannya tercapai. Tapi tentunya metode yang digunakannya itu tidak bertentangan dengan psikologi perkembangan anak usia dini,” ujarnya.
Dengan demikian, kreativitas guru harus berjalan beriringan dengan pertimbangan pedagogis. Metode yang menarik belum tentu tepat jika tidak sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, dan kondisi psikologis anak.
Guru Menjadi Figur yang Ditiru Anak
Asep juga menekankan bahwa guru PAUD memiliki peran penting dalam membentuk perilaku dan pemahaman anak. Pada usia dini, anak tidak hanya belajar melalui penjelasan verbal, tetapi juga dengan mengamati tindakan, meniru perilaku, dan memercayai informasi yang disampaikan oleh figur yang dianggap penting.
“Apa yang ibu ucapkan didengar oleh anaknya. Apa yang Bapak Ibu peragakan itu dilihat dan dipraktikkan,” kata Asep.
Ia menggambarkan bagaimana pengaruh guru dapat terbawa hingga ke lingkungan keluarga. Dalam pengalamannya, anaknya pernah bersikeras menyatakan bahwa matahari terbit dari arah barat karena mengingat informasi yang didengarnya dari guru di sekolah.
Ketika ibunya mencoba mengoreksi bahwa matahari terbit dari timur, anak tersebut tetap mempertahankan jawaban yang diyakininya berasal dari guru.
Melalui cerita itu, Asep menunjukkan betapa kuatnya kepercayaan anak terhadap guru. Informasi yang disampaikan di kelas dapat membentuk keyakinan anak, bahkan ketika informasi tersebut perlu dikoreksi.
Karena itu, guru perlu berhati-hati dalam menyampaikan materi dan memberikan contoh. Kesalahan penjelasan yang tampak sederhana dapat memengaruhi pemahaman anak apabila tidak segera diluruskan dengan cara yang sesuai.
Bagi Asep, peran guru PAUD bahkan menyerupai orang tua kedua bagi anak selama berada di sekolah. Guru bukan hanya bertanggung jawab menyampaikan materi, melainkan juga menciptakan lingkungan belajar yang aman, memberikan teladan yang baik, dan membantu anak membangun pemahaman tentang dunia di sekitarnya.
Membawa Anak Mengenal Dunia Nyata
Dalam kuliah tersebut, Asep turut mengkritisi pembelajaran yang terlalu mengandalkan hafalan tanpa membantu anak memahami konsep yang sedang dipelajari. Ia mencontohkan lagu anak “Bintang Kecil” yang memuat lirik tentang bintang kecil di langit biru.
Menurutnya, guru perlu mengembangkan kegiatan bernyanyi dengan percakapan atau pengalaman belajar yang membantu anak memahami konsep di balik lirik tersebut. Misalnya, guru dapat mengajak anak membicarakan mengapa bintang tampak kecil ketika dilihat dari Bumi, meskipun ukuran sebenarnya dapat sangat besar.
Artikel Terkait
Pendidikan dan Kesehatan Anak Didik Harus Dilindungi dari Efek Karhutla
Antrean BBM Bali Belum Reda, Muncul Fenomena Ojol Jual Bensin hingga Rp200 Ribu
BBM Langka di Bali: ASN WFH dan Siswa PJJ Selama 3 Hari
Tagihan Jalan Terus, Ini Cara Menata Keuangan agar Tidak Tekor
Rahasia Menjaga Baterai Motor Listrik Tetap Awet dan Tahan Lama
Mulai 18 Oktober 2026, Makanan hingga Kosmetik Wajib Bersertifikat Halal
Beasiswa RPL Buka Peluang Guru PAUD Tingkatkan Kualifikasi Akademik di UMT
Dekan FKIP UMT Ingatkan Mahasiswa RPL PG PAUD Disiplin Penuhi Persyaratan Akademik dan Tuntaskan Studi
Dekan FKIP UMT: Guru PAUD Jangan Fokus Calistung, tetapi Membentuk Karakter Anak
Direktur LPPP UMT: Pengalaman Mengajar Saja tak Cukup, Guru PAUD Harus Terus Menguatkan Kompetensi dengan Ilmu Pengetahuan