Ia kemudian mengangkat pertanyaan tentang perbandingan ukuran Bumi, Matahari, dan bintang sebagai ilustrasi pentingnya menghubungkan materi dengan pengetahuan tentang dunia nyata.
“Dalam teori belajar bahwa anak usia ini harus dibawa ke dunia konkret. Dunia nyata,” ujar Asep.
Pesan tersebut menekankan pentingnya pembelajaran yang dekat dengan pengalaman anak. Konsep abstrak perlu diperkenalkan melalui benda, pengamatan, percobaan sederhana, cerita, dan aktivitas yang dapat membantu anak membangun pemahaman sesuai tahap perkembangannya.
Lagu, misalnya, tidak harus berhenti sebagai kegiatan menghafal lirik. Guru dapat menjadikannya pintu masuk untuk mengajak anak mengamati langit, mengenali benda-benda di lingkungan sekitar, mengajukan pertanyaan, dan membandingkan apa yang mereka lihat dengan penjelasan yang diberikan.
Baca Juga: Beasiswa RPL Buka Peluang Guru PAUD Tingkatkan Kualifikasi Akademik di UMT
Pendekatan tersebut juga menuntut guru untuk terus mengembangkan strategi pembelajaran. Ketika suatu metode hanya menghasilkan hafalan tanpa pemahaman, guru perlu mengevaluasi dan mencari cara lain yang lebih efektif.
Bagi mahasiswa RPL PG PAUD UMT, pesan Asep menjadi pengingat bahwa pengalaman panjang mengajar merupakan modal penting, tetapi perlu terus diperkaya dengan pengetahuan, refleksi, dan kreativitas. Guru yang baik bukan sekadar mampu mengulang rutinitas pembelajaran, melainkan juga mampu merancang pengalaman belajar yang bermakna, aman secara psikologis, dan relevan dengan dunia anak.
Melalui pendekatan tersebut, kreativitas tidak hanya menjadi hiburan di ruang kelas, tetapi menjadi bagian dari upaya membangun pembelajaran yang membantu anak memahami lingkungan, mengembangkan rasa ingin tahu, dan tumbuh sesuai tahap perkembangannya.