Tangerang, Educeria.com — Kreativitas guru PAUD tidak cukup ditunjukkan melalui banyaknya aktivitas atau permainan di kelas. Guru juga harus mampu menemukan pendekatan pembelajaran yang efektif, membangun pemahaman anak melalui pengalaman konkret, serta memastikan setiap metode tetap sesuai dengan tahap perkembangan psikologis mereka. Pesan tersebut disampaikan Direktur Lembaga Pengembangan, Pendidikan, dan Pembelajaran (LPPP) Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT), Asep Suhendar, dalam kuliah umum bagi mahasiswa Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) PG PAUD penerima beasiswa Kabupaten Tangerang.
Di hadapan para mahasiswa yang sebagian besar telah memiliki pengalaman mengajar, Asep mengajak peserta memahami bahwa kreativitas merupakan kemampuan untuk menemukan alternatif, menghasilkan gagasan, dan memperbaiki cara mengajar ketika pendekatan yang biasa digunakan belum memberikan hasil yang diharapkan.
Untuk menjelaskan gagasan tersebut, ia tidak hanya menyampaikan teori, tetapi juga melibatkan mahasiswa dalam sejumlah permainan berpikir. Salah satunya adalah tantangan mengangkat tiga jari, kemudian kembali mengangkat tiga jari dengan menggunakan jari yang belum diangkat.
Permainan sederhana tersebut mengajak peserta keluar dari pola pikir pertama yang muncul secara spontan. Asep menunjukkan bahwa sebuah persoalan dapat memiliki alternatif penyelesaian ketika seseorang bersedia melihat situasi dari sudut pandang berbeda.
Ia kemudian melanjutkan dengan pertanyaan mengenai binatang yang kepalanya lebih besar daripada badannya. Jawaban mahasiswa bermunculan, termasuk semut dan capung. Asep menanggapi jawaban tersebut dengan humor, antara lain melalui gagasan capung yang memakai helm, untuk menunjukkan bagaimana imajinasi dapat memunculkan kemungkinan baru.
Interaksi itu membuat suasana kuliah lebih cair sekaligus memberi contoh bahwa kreativitas dapat dirangsang melalui pertanyaan sederhana yang mendorong peserta berpikir di luar jawaban yang paling umum.
Mengajak Mahasiswa Berani Berpikir di Luar Kebiasaan
Tantangan berikutnya adalah mencari binatang yang kakinya lebih besar daripada badannya. Asep bahkan menawarkan hadiah Rp100 ribu bagi peserta yang mampu menjawab pertanyaan tersebut.
Salah seorang mahasiswa, Indriani dari Jayanti, kemudian mengajukan jawaban berupa burung unta yang memakai sepatu bot. Ia menyampaikan jawabannya dengan sedikit ragu dan meminta agar tidak ditertawakan jika ternyata salah.
Asep merespons jawaban itu dengan mengembangkan gagasan Indriani. Ia mempertanyakan ukuran sepatu bot yang digunakan: jika ukurannya cukup besar, mungkinkah kaki yang dimaksud menjadi lebih besar daripada tubuh binatang tersebut?
Percakapan itu memperlihatkan bahwa kreativitas bukan hanya soal menemukan jawaban yang langsung dianggap benar, melainkan juga kemampuan mengembangkan gagasan, mengeksplorasi kemungkinan, dan melihat persoalan dari perspektif yang berbeda.
Dalam praktik pendidikan anak usia dini, pendekatan semacam ini dapat menjadi inspirasi bagi guru untuk menghadirkan pertanyaan terbuka, permainan imajinatif, serta aktivitas yang mendorong anak bereksplorasi. Guru perlu memberi ruang kepada anak untuk mengemukakan gagasan, sembari membantu mereka membangun pemahaman secara bertahap.
Baca Juga: Dekan FKIP UMT: Guru PAUD Jangan Fokus Calistung, tetapi Membentuk Karakter Anak