Sebelumnya, warga melaporkan harus menunggu berjam-jam untuk mendapatkan bahan bakar.
Pemerintah Provinsi Bali sebelumnya menyatakan persediaan Pertalite dan Pertamax mencukupi untuk kebutuhan sekitar dua pekan.
Namun, proses distribusi dari depo menuju SPBU disebut mengalami hambatan karena meningkatnya jumlah kendaraan yang datang untuk mengisi BBM.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa ketersediaan stok di tingkat depo tidak selalu berarti masyarakat dapat memperoleh BBM dengan mudah di setiap SPBU.
Di tengah situasi ini, penjualan bensin eceran dapat menjadi alternatif bagi pengendara yang kehabisan bahan bakar.
Namun, harga yang tidak wajar berpotensi memberatkan warga maupun wisatawan yang membutuhkan BBM untuk melanjutkan perjalanan.
Harga Bensin Eceran Perlu Diawasi
Peredaran bensin eceran dengan harga tinggi juga memunculkan pertanyaan mengenai kewajaran harga dan keamanan bahan bakar yang dijual.
Masyarakat perlu berhati-hati ketika membeli bensin dari sumber yang tidak jelas, terutama jika bahan bakar disimpan dalam wadah yang tidak dirancang untuk menampung cairan mudah terbakar.
Di sisi lain, informasi mengenai harga Rp100 ribu hingga Rp200 ribu untuk 1,5 liter tersebut masih perlu diverifikasi melalui konfirmasi kepada pihak yang terlibat maupun otoritas terkait.
Penanganan distribusi BBM dan pengawasan terhadap praktik penjualan yang merugikan konsumen menjadi penting agar masyarakat tidak semakin terbebani selama gangguan pasokan berlangsung.***
Artikel Terkait
KM Feronia Tenggelam di Labuan Bajo: 29 Orang Selamat, 1 Turis WNI Masih Dicari
Karhutla Belum Usai, Gubernur Kaltim Viral di Singapura Disebut Nonton F1
Update: Pencarian Korban KM Feronia Diperluas, Penyelam Sisir Bangkai Kapal
BBM di Bali Masih Sulit Didapat, Dirut Pertamina Minta Maaf
Pendidikan dan Kesehatan Anak Didik Harus Dilindungi dari Efek Karhutla