Tangerang, Educeria.com— Pengalaman belajar tidak hanya dapat mengubah pengetahuan seseorang, tetapi juga cara memahami orang lain. Hal tersebut dirasakan sejumlah orang tua yang turut mengikuti kegiatan English Club bersama anak-anak mereka.
Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Ditjen PAUD Kemendikdasmen, Brotojoyo Retnowati yang biasa disapa Retno, menceritakan bahwa keterlibatan orang tua dalam kegiatan belajar tersebut memberikan pengalaman baru. Orang tua tidak hanya melihat anak sebagai peserta didik, tetapi juga dapat merasakan secara langsung bagaimana proses memahami materi membutuhkan waktu dan usaha.
English Club pada awalnya dibentuk setelah orang tua menyampaikan bahwa biaya kursus bahasa Inggris cukup mahal. Kegiatan tersebut kemudian dimulai dengan jumlah peserta yang terbatas sebelum berkembang karena semakin banyak anak yang tertarik untuk belajar.
Dalam perkembangannya, orang tua juga menyampaikan keinginan untuk ikut belajar. Mereka yang sehari-hari bekerja maupun mengurus rumah tangga kemudian mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pembelajaran bersama.
Pengalaman mengikuti kegiatan belajar tersebut membuat salah seorang ibu menyadari bahwa proses memahami pelajaran tidak selalu mudah bagi anak.
Retno menceritakan bahwa ibu tersebut sebelumnya kerap memarahi bahkan mencubit anak ketika anak membutuhkan waktu lebih lama untuk menjawab pertanyaan. Namun, setelah merasakan sendiri proses belajar, pandangannya terhadap kesulitan anak mulai berubah.
“Dulu saya suka marahin, bahkan cubit kalau dia lama jawabnya. Sekarang saya tahu belajar itu susah,” ungkap Retno saat ditemui educeria.com beberapa waktu lalu, mengutip pengalaman orang tua tersebut.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu perubahan yang terlihat setelah orang tua ikut terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Orang tua mendapatkan kesempatan untuk memahami bahwa setiap anak memiliki proses dan kecepatan belajar yang berbeda.
Menurut Retno, keterlibatan orang tua juga menciptakan ruang komunikasi baru antara anak dan keluarga. Materi yang dipelajari bersama dapat menjadi bahan pembicaraan ketika anak dan orang tua kembali berada di rumah.
Anak dapat menceritakan pengalaman belajarnya, sementara orang tua memiliki gambaran mengenai kegiatan yang diikuti anak. Dengan begitu, pembelajaran tidak hanya berakhir ketika kegiatan di kelas selesai, tetapi dapat berlanjut melalui percakapan dan interaksi di rumah.
Kegiatan tersebut juga memperlihatkan bahwa orang tua tidak harus selalu berada pada posisi sebagai pihak yang mengajarkan. Dalam beberapa situasi, orang tua justru dapat belajar bersama anak dan memahami kesulitan yang mereka hadapi.
Bagi Retno, pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pendidikan yang lebih luas. Anak mendapatkan pengetahuan dan pengalaman belajar, sementara orang tua mendapatkan kesempatan untuk memahami proses belajar anak dari sisi yang berbeda.
"Perubahan tersebut tidak selalu hadir dalam bentuk hasil akademik. Cara orang tua merespons anak ketika mengalami kesulitan juga menjadi bagian dari dampak yang dapat muncul dari keterlibatan keluarga dalam pendidikan." Jelasnya
Dari English Club yang awalnya hadir untuk memberikan akses belajar bahasa Inggris, kegiatan tersebut kemudian berkembang menjadi ruang belajar bersama. Di dalamnya, anak dan orang tua tidak hanya mendapatkan materi pembelajaran, tetapi juga pengalaman yang dapat memengaruhi cara mereka berinteraksi satu sama lain.