feature

Dari Dua Kampung yang Tak Akur, Anak-Anak Dipertemukan Lewat Ruang Belajar

Senin, 5 Oktober 2026 | 21:06 WIB
Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Ditjen PAUD Kemendikdasmen, Brotojoyo Retnowati, saat ditemui di sekolah Bimbel Ibu Bangsa (BIB) beberapa waktu lalu. (Educeria.com/Muhammad Guruh Nuary)

Tangerang, Educeria.com— Pendidikan tidak hanya menjadi ruang untuk mengenalkan pengetahuan kepada anak. Bagi Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Ditjen PAUD Kemendikdasmen, Brotojoyo Retnowati yang biasa disapa Retno, kegiatan belajar juga dapat menjadi ruang untuk mempertemukan anak-anak dari lingkungan yang berbeda.

Hal tersebut terjadi ketika kegiatan pendidikan yang dijalankannya mulai diikuti anak-anak dari dua kampung yang pada saat itu memiliki hubungan kurang harmonis. Kondisi tersebut membuat anak-anak dari kedua lingkungan cenderung tidak berbaur satu sama lain.

Retno kemudian mempertemukan mereka dalam satu ruang belajar. Anak-anak dari kedua kampung mengikuti kegiatan yang sama, duduk bersama, dan mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi tanpa membawa perbedaan lingkungan ke dalam kegiatan belajar.

Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Ditjen PAUD Kemendikdasmen tersebut melihat bahwa anak-anak perlu mendapatkan pemahaman bahwa perbedaan lingkungan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menjauh.

Dalam kegiatan tersebut, anak-anak juga diajak memahami bahwa mereka berada dalam lingkungan belajar yang sama. Dengan bertemu secara langsung dan melakukan aktivitas bersama, mereka mendapatkan kesempatan untuk mengenal satu sama lain.

Retno menuturkan bahwa dirinya berupaya memperlakukan seluruh anak dengan cara yang sama tanpa membedakan asal lingkungan maupun latar belakang keluarga.

“Siapa pun yang masuk ke pintu gerbang, itu anak kita,” ujar Retno pada saat ditemui educeria.com beberapa waktu lalu.

Prinsip tersebut menjadi salah satu cara yang diterapkan dalam membangun lingkungan belajar. Anak-anak yang datang dipandang sebagai bagian dari komunitas yang sama, sehingga perbedaan asal kampung tidak menjadi batas dalam kegiatan.

Menurut Retno, proses pendidikan juga perlu memberikan pengalaman sosial kepada anak. Anak tidak hanya belajar mengenai materi akademik, tetapi juga belajar berinteraksi, mengenal perbedaan, dan membangun hubungan dengan orang lain.

Upaya mempertemukan anak-anak dari kedua lingkungan tersebut kemudian menjadikan kegiatan belajar memiliki fungsi yang lebih luas. Ruang kelas tidak hanya menjadi tempat untuk mengerjakan tugas atau memahami pelajaran, tetapi juga menjadi tempat anak-anak membangun pengalaman bersama.

Pendekatan tersebut juga didukung dengan keterlibatan orang tua. Dalam lingkungan belajar yang dibangun, orang tua tidak hanya diposisikan sebagai wali peserta didik, tetapi juga diajak menjadi bagian dari komunitas.

Bagi Retno, hubungan yang baik antara anak, orang tua, dan lingkungan sekitar menjadi bagian dari proses pendidikan.

"Ketika anak mendapatkan ruang untuk bertemu dengan orang lain yang berbeda latar belakang, mereka memiliki kesempatan untuk belajar menghargai perbedaan sejak dini," paparnya.

Dari kegiatan tersebut, ruang belajar akhirnya tidak hanya mempertemukan anak-anak dengan materi pembelajaran, tetapi juga mempertemukan mereka satu sama lain. Pendidikan menjadi salah satu cara untuk membuka ruang interaksi di tengah perbedaan lingkungan yang sebelumnya membuat mereka berjarak.

Tags

Terkini