Bunda PAUD Kecamatan Jatiuwung yang sebelumnya menjabat Bunda PAUD Kecamatan Cibodas, Nurul Fitri Prihadi saat ditemui Educeria.com. (Educeria.com/Muhammad Guruh Nuary)
Tangerang, Educeria - Dua setengah bulan bukan waktu yang panjang untuk mempersiapkan sebuah ajang penghargaan. Bagi Nurul, waktu sesingkat itu justru menjadi awal dari perjalanan yang penuh tekanan, kerja keras, dan ketidakpastian.
Ketika pertama kali ditunjuk untuk mewakili Kecamatan Cibodas dalam ajang apresiasi Bunda PAUD, Nurul mengaku sempat ragu. Saat itu, ia merasa belum memiliki cukup pengalaman. Ia bahkan masih bertanya-tanya tentang apa sebenarnya tugas seorang Bunda PAUD.
“Bingung sebenarnya Bunda PAUD itu apa sih, kerjaan kita ngapain,” kenangnya kepada Educeria.com saat ditemui di kantor Kecamatan Jatiuwung, Kota Tangerang, Kamis (3/9/2026).
Pemahamannya kemudian berubah. Bunda PAUD ternyata bukan sekadar mengajar anak-anak, melainkan berperan dalam mendorong kebijakan, melakukan sosialisasi, serta membangun kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mendukung pendidikan anak usia dini.
Di tengah keterbatasan waktu, Nurul bersama berbagai pihak mulai bergerak. Dukungan datang dari lintas sektor, Dinas Pendidikan, Bunda PAUD Kota Tangerang, hingga beragam pemangku kepentingan di Kecamatan Cibodas. Dalam kejaran waktu yang mepet tersebut, berbagai program dikejar untuk mengejar ketertinggalan.
Roadshow, sosialisasi wajib belajar 13 tahun, gerakan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat, hingga kegiatan parenting menjadi bagian dari upaya tersebut. Salah satu yang kemudian menjadi inovasi unggulan adalah "Sapa PAUD".
"Sapa PAUD" lahir dari kegelisahan Nurul melihat adanya jarak antara kebiasaan yang diajarkan guru di sekolah dan penerapannya di rumah. Gerakan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat, menurutnya, tidak akan cukup jika hanya disampaikan kepada anak di sekolah tanpa melibatkan orang tua.
Dari situlah muncul gagasan membuat sebuah aplikasi yang dapat digunakan guru dan orang tua. Melalui aplikasi tersebut, orang tua dapat melaporkan kebiasaan anak sehari-hari, mulai dari bangun pagi, beribadah, makan sehat, berolahraga hingga tidur tepat waktu. Guru kemudian dapat memantau perkembangan kebiasaan tersebut.
Bagi Nurul, keterlibatan orang tua merupakan bagian penting. Sebab, ketika anak sudah berada di rumah, tanggung jawab pembentukan kebiasaan tidak lagi hanya berada di tangan guru.
Ia bahkan mengembangkan gagasan tersebut dengan memasukkan unsur pemantauan kesehatan anak. Indikator seperti berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, dan lingkar lengan atas (LILA) turut dipertimbangkan untuk membantu memantau kondisi tumbuh kembang anak.
Perhatian Nurul terhadap anak usia dini juga tidak berhenti pada urusan pendidikan. Ia melihat persoalan lain yang semakin dekat dengan kehidupan anak-anak: penggunaan gawai.
Dalam pengalamannya, penggunaan handphone secara berlebihan dapat memengaruhi pola tidur dan interaksi anak. Ia pernah mendampingi kasus seorang anak yang mengalami keterlambatan bicara dan memiliki kebiasaan menggunakan gawai dalam waktu yang sangat lama. Setelah orang tua mendapatkan konseling dan penggunaan gawai mulai dihentikan, perubahan perlahan terlihat.
Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa pendidikan anak usia dini tidak dapat dipisahkan dari pola asuh orang tua. Karena itu, Nurul kembali merancang kegiatan parenting dan roadshow mengenai stimulasi serta pola asuh yang tepat bagi anak usia fondasi.
Namun, semua upaya itu harus dilakukan sambil berpacu dengan waktu. Nurul hanya memiliki waktu sekitar dua setengah bulan untuk mempersiapkan berbagai kebutuhan dalam ajang apresiasi tersebut.
Sementara itu, peserta dari daerah lain disebut telah melakukan persiapan jauh lebih lama. Tekanan semakin terasa ketika seluruh dokumen dan tautan praktik baik harus dimasukkan menjelang batas akhir pengumpulan.
“Saya sampai mau nangis, ya karena waktu bener-bener mepet, deadline sebentar lagi. Untung saya punya tim ini solid semua,” ujarnya, menggambarkan betapa beratnya proses tersebut.
Ketika akhirnya namanya masuk dalam daftar penerima apresiasi, Nurul pun tidak langsung larut dalam kegembiraan. Ia justru sempat bingung bagaimana menyampaikan kabar tersebut kepada pihak-pihak yang telah mendukungnya.
Undangan yang awalnya ia kira hanya untuk menghadiri acara ternyata membawa kabar lain. Dari banyak kecamatan di Indonesia, hanya sembilan kecamatan yang masuk dalam daftar penerima apresiasi, dan Kecamatan Cibodas menjadi salah satunya. Bagi Nurul, capaian itu bukan semata-mata keberhasilannya sendiri.
Ia menyebut keberhasilan tersebut tidak lepas dari orang-orang yang berada di belakangnya—mereka yang memberikan dukungan ketika proses seleksi berlangsung.
Penghargaan itu bahkan datang ketika Nurul sudah berpindah tugas ke Kecamatan Jatiuwung. Ia menerima apresiasi atas apa yang telah dikerjakannya di Cibodas, sementara tugas barunya menuntutnya kembali melihat persoalan pendidikan anak usia dini dari lingkungan yang berbeda.
Tempat Baru, Tantangan Baru
Di Jatiuwung, tantangannya tidak kalah besar. Sekitar 60 persen wilayahnya merupakan kawasan industri dan banyak dihuni pendatang. Ketersediaan PAUD SPS juga masih terbatas. Kondisi ekonomi masyarakat serta keterbatasan akses pendidikan anak usia dini menjadi persoalan yang ingin ia dorong untuk diperbaiki.
Kini, penghargaan tersebut bagi Nurul bukanlah titik akhir. Justru menjadi pemicu untuk terus bergerak.
Ia masih memikirkan bagaimana meningkatkan kualitas tenaga pendidik PAUD, termasuk mendorong mereka melanjutkan pendidikan hingga jenjang sarjana. Ia bahkan sempat mempertimbangkan untuk melanjutkan kuliah dan mencari peluang beasiswa maupun dukungan CSR agar para pendidik PAUD memiliki kesempatan yang lebih besar untuk meningkatkan kompetensinya.
Perjalanan Nurul menunjukkan bahwa keberhasilan di tingkat nasional tidak selalu dimulai dari persiapan yang panjang dan sempurna. Kadang, justru berawal dari keraguan, waktu yang terbatas, dan keberanian untuk mulai bergerak.
Dari Cibodas, Nurul belajar bahwa menjadi Bunda PAUD bukan sekadar sebuah gelar atau jabatan. Di baliknya ada pekerjaan untuk menghubungkan sekolah, orang tua, pemerintah, dan masyarakat agar anak-anak mendapatkan fondasi pendidikan yang lebih baik.
Dan bagi Nurul, apresiasi yang telah diraih bukanlah akhir dari perjalanan. Ia masih memiliki pekerjaan yang jauh lebih panjang: memastikan praktik baik yang pernah ia bangun tidak berhenti sebagai sebuah penghargaan, tetapi dapat terus berkembang dan dirasakan lebih banyak anak.
"Tantangan tiap kecamatan tentu berbeda, sekarang saya di Jatiuwung, secara geografis saja sudah beda, akses juga beda. Ini maka akan saya dorong untuk perbaikan lebih lanjut," pungkasnya.
Reporter: Muhammad Guruh Nuary
Penulis: Nailah Zukhruf Kamilah
Editor: Muhammad Guruh Nuary
