![]() |
| Bunda PAUD Kecamatan Jatiuwung yang sebelumnya menjabat Bunda PAUD Kecamatan Cibodas, Nurul Fitri Prihadi saat ditemui Educeria.com. (Educeria.com/Muhammad Guruh Nuary) |
Dari pandangan tersebut, Nurul langsung menggebrak lewat inovasi "Sapa PAUD" saat masih bertugas di Kecamatan Cibodas. "Sapa PAUD" merupakan aplikasi yang dirancang agar guru dan orang tua dapat bersama-sama memantau penerapan 'tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat' di rumah.
“Saya pikir gitu akhirnya, saya punya ide gimana kalau dibikin aplikasi, aplikasinya bisa diakses oleh orang tua dan juga oleh guru untuk monitoring,” ujar Nurul saat ditemui di kantor Kecamatan Jatiuwung, Kota Tangerang, Kamis (3/9/2026).
Melalui ”Sapa PAUD", orang tua dapat melaporkan kebiasaan anak, mulai dari bangun tidur, beribadah, makan sehat, berolahraga hingga tidur lebih awal. Data tersebut kemudian dapat digunakan guru untuk melihat perkembangan penerapan kebiasaan anak di rumah.
Menurut Nurul, keterlibatan orang tua menjadi penting karena tanggung jawab pendidikan anak tidak berhenti ketika kegiatan di sekolah selesai. Ia menekankan pentingnya pola asuh yang sejalan antara ayah dan ibu.
“Kalau memang pengajaran istilahnya kalau di PAUD kan sudah tanggung jawab guru-gurunya, tapi ketika sudah sampai rumah berarti kan ada tanggung jawab orang tua, dimana? di Pola asuh. Pola asuhnya bagaimana? Ayah dan ibu juga harus sepakat,” paparnya.
Selain pemantauan melalui "Sapa PAUD", Nurul juga mendorong kegiatan parenting bagi orang tua. Salah satu perhatian yang ia soroti adalah penggunaan Handphone pada anak. Menurutnya, aturan penggunaan gawai perlu disepakati bersama agar tidak terjadi perbedaan sikap antara ayah dan ibu.
Dalam wawancara, ia menceritakan pengalamannya ketika mendampingi seorang anak berusia empat tahun yang mengalami keterlambatan bicara (speach delay) dan memiliki kebiasaan menggunakan gawai dalam waktu yang sangat lama. Setelah mendapatkan konseling, penggunaan gawai dihentikan dan pola tidur anak akhirnya bisa diperbaiki.
“Walaupun anaknya tantrum. Tantrumnya itu sampai tiga minggu, lempar-lempar apa gitu. Saya bilang tahan sampai akhirnya terbiasa, mulai tuh tidur normal, gak pegang handphone, akhirnya bisa bilang (ngomong) 'ibu', 'ayah',” ungkapnya.
Namun, menurut Nurul, upaya tersebut dapat kembali terganggu apabila aturan yang sudah disepakati tidak dijalankan secara konsisten oleh kedua orang tua. “Biasanya ini bapaknya yang menyerah, capek abis kerja, lihat anak pegangin handphone lagi, ya udah pas semua itu (dilakuin lagi) ya buyar, jadi percuma terapi wicaranya,” katanya.
Karena itu, Nurul menilai pendidikan karakter dan pembiasaan anak membutuhkan kerja sama yang berkelanjutan antara sekolah dan keluarga. Guru memberikan pembiasaan ketika anak berada di sekolah, sementara orang tua memiliki peran besar untuk memastikan kebiasaan tersebut tetap berjalan di rumah.
Untuk memperkuat pemahaman tersebut, Nurul juga tengah mempersiapkan kegiatan roadshow “Stimulasi Parenting yang Tepat dan Benar untuk Anak Usia Fondasi”. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi ruang bagi orang tua untuk memahami pola asuh dan stimulasi yang sesuai dengan kebutuhan anak usia dini.
Dengan keterlibatan kedua lingkungan tersebut, pembentukan karakter anak tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi menjadi proses bersama yang berlangsung secara konsisten di sekolah maupun di rumah.
Reporter: Muhammad Guruh Nuary
Penulis: Marzukoh Masail Miskah
Editor: Muhammad Guruh Nuary
