![]() |
| Feby Aulia Yolandi bersama tim Educeria.com. (Kyara Aisyah/Educeria.com) |
Tangerang, Educeria — Kegagalan tidak selalu menjadi akhir dari sebuah perjalanan. Bagi Feby Aulia Yolandi, kegagalan justru menjadi titik balik yang membawanya menemukan kembali semangat untuk berkembang hingga akhirnya meraih prestasi sebagai Duta Bahasa Banten Terbaik II.
Sebelum mengikuti ajang Duta Bahasa Banten, Feby mengaku sempat mengalami beberapa kegagalan ketika mendaftarkan diri ke perguruan tinggi. Ia menyebut telah mencoba mendaftar ke beberapa universitas hingga lima atau enam kali, tetapi semuanya belum membuahkan hasil.
Pengalaman tersebut sempat membuatnya kehilangan semangat. Setelah akhirnya menjalani perkuliahan, rutinitasnya terasa begitu sederhana: kuliah, kemudian pulang. Kondisi itu membuat Feby mulai mempertanyakan apakah dirinya sudah melakukan sesuatu yang berarti.
“Dari kegagalan itu, semester satu, semester dua aku benar-benar kuliah pulang, kuliah pulang. Aku merasa kok aku gini doang ya, kayak nggak bermanfaat,” ungkap Feby kepada tim Educeria.com beberapa waktu lalu.
Di tengah kondisi tersebut, kesempatan mengikuti Duta Bahasa Banten datang secara tidak terduga. Awalnya, Feby bahkan tidak memiliki niat untuk mengikuti ajang tersebut. Ia mengikuti sosialisasi karena mendapat arahan dari ketua program studi.
Namun, setelah mengikuti sosialisasi, ketertarikannya mulai tumbuh. Ia kemudian mengikuti proses pendaftaran dan seleksi yang pada awalnya tidak benar-benar direncanakan.
“Sebenernya nggak ada niatan sama sekali. Tapi karena waktu itu ada sosialisasi dan kata kaprodi wajib ikut sosialisasinya. Yaudah lah akhirnya ikut,” tuturnya.
Keikutsertaan yang awalnya hanya coba-coba tersebut kemudian membawanya semakin jauh. Feby melewati berbagai tahapan seleksi, mulai dari seleksi internal, administrasi, penyusunan rancangan program atau kerida, hingga berbagai tes di tingkat Provinsi Banten.
Proses seleksi yang dijalani tidak sederhana. Setelah masuk 40 besar, peserta harus mengikuti sejumlah tahapan seperti pembuatan video kreatif, lokakarya kebahasaan, tes Uji Kemahiran Bahasa Indonesia (UKBI), penulisan esai, tes wawasan kebahasaan, wawancara dalam tiga bahasa, presentasi kerida, hingga wawancara kepribadian. Seleksi kemudian berlanjut hingga 20 besar. Pada tahap tersebut, peserta kembali menghadapi tes wicara publik dan unjuk bakat sebelum akhirnya menuju grand final.
Rangkaian seleksi yang berlangsung sejak April hingga Juni tersebut menjadi pengalaman yang berkesan bagi Feby. Selain menghadapi berbagai tes, ia juga bertemu dengan peserta dari berbagai universitas dan latar belakang.
Menurutnya, pertemuan tersebut menjadi salah satu pengalaman berharga karena mempertemukannya dengan orang-orang yang memiliki wawasan luas dan cara berpikir yang beragam.
Menariknya, perjalanan Feby dalam Duta Bahasa juga mempertemukannya dengan tantangan yang berkaitan langsung dengan latar belakang bahasanya. Dalam wawancara tiga bahasa, ia harus menggunakan bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa daerah.
Feby sendiri berasal dari Kuningan, Jawa Barat, sehingga bahasa Sunda yang digunakannya memiliki perbedaan dengan bahasa Sunda Banten. Perbedaan tersebut terlihat dari logat, kosakata, hingga nada bicara.
Namun, berbagai tantangan tersebut berhasil dilewati hingga Feby sampai pada tahap final. Bahkan, ketika pengumuman berlangsung, ia sempat mengira dirinya tidak lolos.
Saat itu, panitia menyampaikan bahwa akan ada delapan peserta yang dipanggil. Feby yang duduk di bagian tengah sempat berpikir bahwa dirinya mungkin tidak termasuk di dalamnya. Ia pun mencoba menerima apa pun hasilnya.
“Kalau udah dipanggil mau berapa pun ya alhamdulillah. Ya udahlah,” ujarnya.
Ternyata, Feby justru menjadi salah satu peserta yang dipanggil paling terakhir. Namanya kemudian diumumkan sebagai Duta Bahasa Banten Terbaik II.
Bagi Feby, pencapaian tersebut bukan sekadar sebuah gelar. Menjadi Duta Bahasa Banten berarti menerima sebuah amanah dan tanggung jawab sebagai representasi Provinsi Banten sekaligus bagian dari upaya menjalankan visi dan misi kebahasaan. “Ini adalah sebuah anugerah dan sebuah tanggung jawab,” katanya.
Perjalanan Penuh Tantangan
Perjalanan Feby menunjukkan bahwa terkadang kesempatan besar datang dari sesuatu yang awalnya tidak pernah direncanakan. Apa yang semula hanya bermula dari sebuah sosialisasi yang diikuti karena arahan dosen, justru menjadi ruang baru bagi Feby untuk kembali menemukan semangat dan potensinya.
Kini, setelah meraih Duta Bahasa Banten Terbaik II, Feby tidak ingin berhenti pada pencapaian tersebut. Ia bersama para duta terpilih tengah mempersiapkan rancangan program untuk tahap nasional dan bersiap membawa pengalaman dari Banten ke tingkat yang lebih luas.
Kisah Feby menjadi pengingat bahwa kegagalan tidak selalu berarti jalan berhenti. Terkadang, kegagalan justru membawa seseorang menuju ruang yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.
Bagi mahasiswa yang masih ragu untuk mencoba, Feby memiliki pesan sederhana: mulai dulu.
Menurutnya, rasa takut, malu, dan terlalu banyak berpikir sering kali menjadi penghalang terbesar untuk keluar dari zona nyaman. Karena itu, mencoba menjadi langkah pertama yang penting.
“Mulai dulu aja. Niat dan aksi itu penting banget. Coba aja dulu,” pesannya.
Bagi Feby, menang atau tidak bukan satu-satunya tujuan. Pengalaman yang diperoleh selama proses juga merupakan sebuah pencapaian yang berharga. Karena pada akhirnya, keberanian untuk mencoba bisa menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih besar—bahkan dari sesuatu yang awalnya sama sekali tidak pernah direncanakan. (*)
Reporter: Nida Amelia Triyani, Siti Yani, Marzukoh Masail Miskah, Rasyatul Maharani, Kyara Aisyah Shabrina (fotografer)
Penulis: Nur Agnatul Hasanah
Editor: Muhammad Guruh Nuary
Tags:
FEATURE
