• Jumat, 25 September 2026

Kisah Nurul, dari Keraguan hingga Jadi Bunda PAUD Berprestasi di Tingkat Nasional

Photo Author
- Kamis, 24 September 2026 | 22:29 WIB
Bunda PAUD Kecamatan Jatiuwung yang sebelumnya menjabat Bunda PAUD Kecamatan Cibodas, Nurul Fitri Prihadi saat ditemui Educeria.com. (Educeria.com/Muhammad Guruh Nuary)
Bunda PAUD Kecamatan Jatiuwung yang sebelumnya menjabat Bunda PAUD Kecamatan Cibodas, Nurul Fitri Prihadi saat ditemui Educeria.com. (Educeria.com/Muhammad Guruh Nuary)

Namun, semua upaya itu harus dilakukan sambil berpacu dengan waktu. Nurul hanya memiliki waktu sekitar dua setengah bulan untuk mempersiapkan berbagai kebutuhan dalam ajang apresiasi tersebut. 

Sementara itu, peserta dari daerah lain disebut telah melakukan persiapan jauh lebih lama. Tekanan semakin terasa ketika seluruh dokumen dan tautan praktik baik harus dimasukkan menjelang batas akhir pengumpulan.

“Saya sampai mau nangis, ya karena waktu bener-bener mepet, deadline sebentar lagi. Untung saya punya tim ini solid semua,” ujarnya, menggambarkan betapa beratnya proses tersebut.

Ketika akhirnya namanya masuk dalam daftar penerima apresiasi, Nurul pun tidak langsung larut dalam kegembiraan. Ia justru sempat bingung bagaimana menyampaikan kabar tersebut kepada pihak-pihak yang telah mendukungnya.

Undangan yang awalnya ia kira hanya untuk menghadiri acara ternyata membawa kabar lain. Dari banyak kecamatan di Indonesia, hanya sembilan kecamatan yang masuk dalam daftar penerima apresiasi, dan Kecamatan Cibodas menjadi salah satunya. Bagi Nurul, capaian itu bukan semata-mata keberhasilannya sendiri.

Ia menyebut keberhasilan tersebut tidak lepas dari orang-orang yang berada di belakangnya—mereka yang memberikan dukungan ketika proses seleksi berlangsung.

Penghargaan itu bahkan datang ketika Nurul sudah berpindah tugas ke Kecamatan Jatiuwung. Ia menerima apresiasi atas apa yang telah dikerjakannya di Cibodas, sementara tugas barunya menuntutnya kembali melihat persoalan pendidikan anak usia dini dari lingkungan yang berbeda.

Tempat Baru, Tantangan Baru

Di Jatiuwung, tantangannya tidak kalah besar. Sekitar 60 persen wilayahnya merupakan kawasan industri dan banyak dihuni pendatang. Ketersediaan PAUD SPS juga masih terbatas. Kondisi ekonomi masyarakat serta keterbatasan akses pendidikan anak usia dini menjadi persoalan yang ingin ia dorong untuk diperbaiki.

Kini, penghargaan tersebut bagi Nurul bukanlah titik akhir. Justru menjadi pemicu untuk terus bergerak.

Ia masih memikirkan bagaimana meningkatkan kualitas tenaga pendidik PAUD, termasuk mendorong mereka melanjutkan pendidikan hingga jenjang sarjana. Ia bahkan sempat mempertimbangkan untuk melanjutkan kuliah dan mencari peluang beasiswa maupun dukungan CSR agar para pendidik PAUD memiliki kesempatan yang lebih besar untuk meningkatkan kompetensinya.

Perjalanan Nurul menunjukkan bahwa keberhasilan di tingkat nasional tidak selalu dimulai dari persiapan yang panjang dan sempurna. Kadang, justru berawal dari keraguan, waktu yang terbatas, dan keberanian untuk mulai bergerak.

Dari Cibodas, Nurul belajar bahwa menjadi Bunda PAUD bukan sekadar sebuah gelar atau jabatan. Di baliknya ada pekerjaan untuk menghubungkan sekolah, orang tua, pemerintah, dan masyarakat agar anak-anak mendapatkan fondasi pendidikan yang lebih baik.

Dan bagi Nurul, apresiasi yang telah diraih bukanlah akhir dari perjalanan. Ia masih memiliki pekerjaan yang jauh lebih panjang: memastikan praktik baik yang pernah ia bangun tidak berhenti sebagai sebuah penghargaan, tetapi dapat terus berkembang dan dirasakan lebih banyak anak.

"Tantangan tiap kecamatan tentu berbeda, sekarang saya di Jatiuwung, secara geografis saja sudah beda, akses juga beda. Ini maka akan saya dorong untuk perbaikan lebih lanjut," pungkasnya. 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Muhammad Guruh Nuary

Terkini

X