beranda

Kisah Nurul, dari Keraguan hingga Jadi Bunda PAUD Berprestasi di Tingkat Nasional

Kamis, 24 September 2026 | 22:29 WIB
Bunda PAUD Kecamatan Jatiuwung yang sebelumnya menjabat Bunda PAUD Kecamatan Cibodas, Nurul Fitri Prihadi saat ditemui Educeria.com. (Educeria.com/Muhammad Guruh Nuary)

Tangerang, Educeria - Dua setengah bulan bukan waktu yang panjang untuk mempersiapkan sebuah ajang penghargaan. Bagi Nurul, waktu sesingkat itu justru menjadi awal dari perjalanan yang penuh tekanan, kerja keras, dan ketidakpastian.

Ketika pertama kali ditunjuk untuk mewakili Kecamatan Cibodas dalam ajang apresiasi Bunda PAUD, Nurul mengaku sempat ragu. Saat itu, ia merasa belum memiliki cukup pengalaman. Ia bahkan masih bertanya-tanya tentang apa sebenarnya tugas seorang Bunda PAUD.

“Bingung sebenarnya Bunda PAUD itu apa sih, kerjaan kita ngapain,” kenangnya kepada Educeria.com saat ditemui di kantor Kecamatan Jatiuwung, Kota Tangerang, Kamis (3/9/2026).

Pemahamannya kemudian berubah. Bunda PAUD ternyata bukan sekadar mengajar anak-anak, melainkan berperan dalam mendorong kebijakan, melakukan sosialisasi, serta membangun kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mendukung pendidikan anak usia dini.

Di tengah keterbatasan waktu, Nurul bersama berbagai pihak mulai bergerak. Dukungan datang dari lintas sektor, Dinas Pendidikan, Bunda PAUD Kota Tangerang, hingga beragam pemangku kepentingan di Kecamatan Cibodas. Dalam kejaran waktu yang mepet tersebut, berbagai program dikejar untuk mengejar ketertinggalan.

Roadshow, sosialisasi wajib belajar 13 tahun, gerakan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat, hingga kegiatan parenting menjadi bagian dari upaya tersebut. Salah satu yang kemudian menjadi inovasi unggulan adalah "Sapa PAUD".

"Sapa PAUD" lahir dari kegelisahan Nurul melihat adanya jarak antara kebiasaan yang diajarkan guru di sekolah dan penerapannya di rumah. Gerakan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat, menurutnya, tidak akan cukup jika hanya disampaikan kepada anak di sekolah tanpa melibatkan orang tua.

Baca Juga: Didik Karakter Anak, Sekolah dan Orang Tua Harus Satu Frekuensi

Dari situlah muncul gagasan membuat sebuah aplikasi yang dapat digunakan guru dan orang tua. Melalui aplikasi tersebut, orang tua dapat melaporkan kebiasaan anak sehari-hari, mulai dari bangun pagi, beribadah, makan sehat, berolahraga hingga tidur tepat waktu. Guru kemudian dapat memantau perkembangan kebiasaan tersebut.

Bagi Nurul, keterlibatan orang tua merupakan bagian penting. Sebab, ketika anak sudah berada di rumah, tanggung jawab pembentukan kebiasaan tidak lagi hanya berada di tangan guru.

Ia bahkan mengembangkan gagasan tersebut dengan memasukkan unsur pemantauan kesehatan anak. Indikator seperti berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, dan lingkar lengan atas (LILA) turut dipertimbangkan untuk membantu memantau kondisi tumbuh kembang anak.

Perhatian Nurul terhadap anak usia dini juga tidak berhenti pada urusan pendidikan. Ia melihat persoalan lain yang semakin dekat dengan kehidupan anak-anak: penggunaan gawai.

Dalam pengalamannya, penggunaan handphone secara berlebihan dapat memengaruhi pola tidur dan interaksi anak. Ia pernah mendampingi kasus seorang anak yang mengalami keterlambatan bicara dan memiliki kebiasaan menggunakan gawai dalam waktu yang sangat lama. Setelah orang tua mendapatkan konseling dan penggunaan gawai mulai dihentikan, perubahan perlahan terlihat.

Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa pendidikan anak usia dini tidak dapat dipisahkan dari pola asuh orang tua. Karena itu, Nurul kembali merancang kegiatan parenting dan roadshow mengenai stimulasi serta pola asuh yang tepat bagi anak usia fondasi.

Halaman:

Terkini